Sejarah
Perusahaan
PT. Indonesian Satellite
Corporation (Indosat) didirikan pada tahun 1967 sebagai anak perusahaan yang
dimiliki secara penuh oleh International Telephone and Telegraph Corporation
(ITT). Tahun 1969, Indosat memulai operasi komersialnya dan telah menjadi
penyedia utama jasa telekomunikasi internasional di Indonesia, menghubungkan
Indonesia secara langsung ke hampir 252 negara dan tujuan di seluruh dunia.
Bisnis utama Indosat adalah menyediakan jasa switched dan non-switched telekomunikasi
internasional. Indosat ditugaskan pemerintah Indonesia untuk membangun,
mentransfer, dan mengoperasikan selama 20 tahun sebuah stasiun bumi Intelsat di
Indonesia untuk mengakses penggunaan kapasitas Intelsat di satelit Indian
Ocean Region (IOR). Tahun 1980, ITT menjual Indosat kepada pemerintah
Indonesia. Setelah transfer, Indosat menjadi Badan Usaha Milik Negara dalam
bentuk Perseroan Terbatas, dan menjadi satu-satunya penyedia jasa
telekomunikasi internasional di Indonesia. Pada waktu itu, Pemerintah Indonesia
mentransfer kepemilikan fasilitas Indosat kepada Indosat. Tahun 1982, dalam
rangka memisahkan secara efektif jaringan telekomunikasi domestik dan
internasional, seluruh kepemilikan Perumtel pada kabel bawah laut internasional
dan gerbang serta operator internasionalnya di Jakarta ditransfer ke Indosat
dan Indosat mentransfer aset tertentu yang berhubungan dengan telekomunikasi
domestik ke Perumtel. Pada bulan Oktober 1994, Indosat menyelesaikan initial
global public offering saham-sahamnya. Saham-saham tersebut
diperdagangkan baik di Bursa Efek Jakarta maupun New York Stock Exchange.
BAB 2 ANALISA INTERNAL PERUSAHAAN
Misi,
Visi, dan Filosofi Perusahaan
1. Misi Perusahaan
Setelah Pemerintah Indonesia
mengambil alih kepemilikan seratus persen saham PT. Indosat dari the American
Cable and Television Corporation (ITT/ACR) pada tanggal 31 Desember 1980,
kemudian dirumuskanlah misi baru Indosat pada tahun 1981, yang didasarkan pada
suatu pandangan untuk mentransformasikan Indosat menjadi Badan Usaha Milik
Negara yang bersih dan sukses.
Indosat mendefinisikan misi
perusahaan tersebut sebagai berikut:
- Menyediakan jasa terbaik pada konsumen
- Memberikan hasil terbaik kepada pemegang saham
- Mempertahankan dan meningkatkan citra terbaik perusahaan
2. Visi Perusahaan
Saat Indosat akan go
public ke bursa saham dunia pada tahun 1994, dilakukan redefinisi visi
perusahaan untuk menyesuaikan diri dengan trend global dalam
sektor telekomunikasi dan memperhitungkan strategi dari perusahaan
telekomunikasi kelas dunia.
Indosat mendefinisikan
tujuan yang hendak diraih yang tertuang dalam visi perusahaan sebagai berikut:
- Mempertahankan kepemimpinan pasar dalam jasa
telekomunikasi internasional di Indonesia
Dengan masuknya pemain baru seiring berakhirnya monopoli sebagai penyedia jasa telekomunikasi internasional, Indosat harus berjuang untuk memimpin pasar dengan: 1) mempertahankan pangsa pasar dominan, dan 2) menyediakan jasa yang terbaik, baik dalam kualitas dan jangkauan produk dan jasa. - Memperkuat posisinya sebagai perusahaan
telekomunikasi berkelas dunia
Adanya kecendrungan di sektor telekomunikasi menuju swastanisasi perusahaan negara dan dibukanya pasar dunia, yang mengakibatkan masuknya pemain asing dalam industri domestik, menuntut Indosat untuk dapat bersaing dengan perusahaan multinasional. Dengan strategi untuk memasuki pasar global diharapkan dapat: 1) meningkatkan nilai perusahaan melalui ekspansi bisnis , dan 2) meningkatkan citra perusahaan yang memperkuat posisinya di Indonesia. - Menjadi pemain global dalam industri
telekomunikasi dunia
Dalam rangka mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar dan menjadi pemain global, Indosat menaikkan standard sesuai dengan standard yang digunakan oleh perusahaan telekomunikasi multinasional, sebagai operator telekomunikasi global.
BAB 3.
ANALISA EKSTERNAL PERUSAHAAN
3.1.Lingkungan
Umum / Remote Environment
Lingkungan
ini adalah suatu tingkatan dalam lingkungan eksternal organisasi yang menyusun
faktor-faktor yang memiliki ruang lingkup luas dan faktor-faktor tersebut pada
dasarnya di luar dan terlepas dari operasi perusahaan.
- Faktor Ekonomi
Krisis moneter yang kemudian disusul dengan tejadinya krisis ekonomi telah membuat terpuruknya perekonomian Indonesia. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar secara drastis dan fluktuatif, banyak menyulitkan perusahaan-perusahaan di Indonesia, yang terutama diakibatkan pinjaman luar negeri yang besar. Hancurnya sektor keuangan khususnya perbankan dan tingkat suku bunga yang sangat tinggi mencapai 70% telah membuat dunia usaha kesulitan untuk mendapatkan kredit yang memadai untuk mengembangkan usahanya. Krisis ini diperburuk dengan terjadinya krisis kepercayaan, yang mengakibatkan terjadinya penolakan letter of credit oleh pihak luar negeri. Kontraksi ekonomi yang diperkirakan mencapai 13% ditahun 1998 ini, inflasi yang tinggi (menurut data BPS dalam periode Januari-September 1998 inflasi telah mencapai 75%), banyaknya PHK, dan pada gilirannya memperbesar jumlah penduduk miskin. Dengan turunnya pendapatan riel masyarakat maka daya beli masyarakat melemah. Semua masalah diatas sangat menyulitkan bagi dunia usaha di Indonesia saat ini. - Faktor Sosial
Kemajuan ekonomi yang pernah terjadi selama periode 1969-1996, telah banyak merubah keadaan sosial di Indonesia. Jasa telekomunikasi pada saat ini telah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat, baik untuk dunia usaha maupun di luar dunia usaha. Keberhasilan program Keluarga Berencana juga telah merubah keadaan demografi Indonesia. Jumlah penduduk usia produktif akan terus meningkat, yang tentunya akan semakin banyak memerlukan jasa telekomunikasi dalam kegiatannya . Hal-hal diatas merupakan peluang bagi perusahaan-perusahaan penyedia jasa telekomunikasi. - Faktor Politik
Keadaan politik dalam negeri yang masih belum stabil pada saat ini, sedikit-banyak cukup mempengaruhi kegiatan ekonomi nasional. Disusunnya beberapa Undang-Undang, seperti: UU Kepailitan, yang berpengaruh pada perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan; dan UU Persaingan Sehat, untuk bisnis yang bersih, yang ditujukan untuk menghapus praktek monopoli atau pun kartel. Khusus untuk jasa telekomunikasi internasional, pemerintah tetap memberikan komitmen untuk mempertahankan duopoli Indosat-Satelindo hingga tahun 2003. Dengan akan berakhirnya duopoli tersebut, maka diperlukan kesiapan dalam menghadapi munculnya pendatang baru. - Faktor Teknologi
Teknologi telekomunikasi merupakan teknologi yang cepat berkembang, seiring dengan berkembangnya industri elektronika dan komputer. Trend teknologi telekomunikasi ini semakin ke arah teknologi digital, semakin besar kapasitas, semakin sederhana perangkatnya, perluasan daya jangkau, keamanan dan privacy lebih baik, personalitas dan penambahan fasilitas yang lain. Evolusi teknologi telekomunikasi saat ini mempunyai kecenderungan untuk beralih via radio, optik atau satelit. - Faktor Ekologi
Pada saat ini dunia bisnis semakin dituntut tanggung-jawabnya terhadap lingkungan. Industri telekomunikasi telah mencoba membuat produk yang ramah lingkungan, dan bagi sektor jasa telekomunikasi relatif tidak menghasilkan limbah sama sekali.
3.2.
Lingkungan Industri
Lingkungan
industri adalah tingkatan dari lingkungan eksternal organisasi yang
menghasilkan komponen-komponen yang secara normal memiliki implikasi yang
relatif lebih spesifik dan langsung terhadap operasionalisasi perusahaan.
Menurut
Michael Porter dalam bukunya Competitive Strategy, keadaan
persaingan dalam suatu industri tergantung lima kekuatan persaingan pokok,
yaitu:
- Ancaman Masuknya Pendatang Baru
Bisnis
pertelekomunikasian merupakan bisnis yang dinamik, menarik, multi aspek,dan
pelopor dalam ekspansi global. Di sisi lain pelbagai bukti empirik secara tak
langsung telah membuktikan bahwa sektor telekomunikasi merupakan sektor bisnis
yang paling diminati oleh perusahaan multi nasional dalam kerangka ekspansi dan
globalisasinya Ini terjadi baik dalam rangka swastanisasi maupun dalam konteks
aliansi strategis antar pelaku di negara maju maupun dalam ekspansi ke negara
berkembang. Berdasarkan kebijakan pemerintah struktur pasar jasa telekomunikasi
sudah diatur sedemikian rupa sehingga perusahaan-perusahaan yang akan masuk
dalam industri ini akan mengalami kesulitan.
Modal
yang dibutuhkan untuk memasuki industri ini sangat besar, mengingat mahalnya
teknologi yang digunakan dan biaya pembangunan jaringan yang luas. Sehingga
yang dapat masuk ke industri ini adalah pengusaha-pengusaha bermodal besar
ataupun perusahaan-perusahaan raksasa yang telah mapan.
Jadi
dengan kondisi tersebut di atas, maka kecil kemungkinannya pendatang baru untuk
dapat memasuki industri ini, karena banyaknya barrier to entry, yang sengaja
dibuat agar tidak meruntuhkan pemain yang sudah ada.
Kekuatan
tawar-menawar pembeli
Jumlah
pelanggan telekomunikasi dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, yang pada
akhir Pelita VIII (2009) diproyeksikan mencapai 21 juta saluran telepon dengan
rasio 9 per seratus orang. Kalau dibandingkan misalnya padatahun 1996 Swedia
(tertinggi dunia) sudah mencapai 68 per seratus orang, dan hongkong 54 per
seratus orang.
Pelanggan
di Indonesia pada umumnya tidak mempunyai daya tawar yang cukup kuat terhadap
jasa telekomunikasi dasar ataupun jasa sambungan langsung internasional, karena
tidak punya pilihan sarana telekomunikasi. Dan untuk jasa sambungan bergerak,
pelanggan memang cukup banyak pilihan , tetapi hanya terbatas pada pilihan
tertentu dan kurang bisa memuaskan pelayanan atas jasanya.
Jadi
melihat hal di atas jelas potensi pasar jasa telekomunikasi cukup besar dan
meningkat dari tahun ke tahun , apalagi di Indonesia banyak potensi pelanggan
yang belum digarap.
Kekuatan
tawar-menawar pemasok
Industri
telekomunikasi banyak memakai kabel serat optik, tidak saja untuk jaringan
darat, tapi juga di laut. Dengan kemajuan teknologi yang sudah sedemikian
pesat, jaringan kabel lama (tembaga) sudah tidak memadai lagi baik untuk
mengakomodasi data maupun informasi. Sebenarnya produsen kabel serat optik
dalam negeri telah mampu memasok kebutuhan nasional. Namun demikian, hampir
sekitar 90% kebutuhan kabel serat optik dalam negeri masih diimpor dari luar
negeri, sehingga bergantung pada produsen luar negeri. Kondisi daya tawar
perusahaan telekomunikasi Indonesia tidak terlalu lemah, karena pemasoknya
terdiri dari banyak perusahaan. Akan tetapi jika terjadi fluktuasi dan
pelemahan nilai tukar mata uang dalam negeri, hal ini yang menjadi bumerang
terhadap perusahaan.
Ancaman
dari barang atau jasa pengganti
Telekomunikasi
merupakan wahana yang menghubungkan manusia satu dengan manusia lainnya melalui
berbagai media telekomunikasi. Sesuai dengan fungsinya tersebut maka jika kita
identifikasikan ada beberapa jasa pengganti yang dapat mengambil alih fungsi
tersebut dari jasa telekomunikasi, misalnya: jasa transportasi, jasa pos, jasa
pers, dan internet. Dari beberapa macam jasa pengganti, berdasarkan kelebihan
dan kelemahannya, maka kecendrungan pelanggan akan tetap menggunakan jasa
telekomunikasi dalam hal kecepatan dan kemudahan berkomunikasi.
Persaingan
di antara perusahaan yang ada
Kondisi
persaingan industri telekomunikasi Indonesia dipengaruhi oleh aturan mengenai
struktur dan bentuk kerjasama antara perusahaan swasta dan BUMN, sesuai dengan
UU No 3/1989, adalah sebagai berikut: Perusahaan swasta dapat menyelenggarakan
jasa telekomunikasi dasar melalui kerjasama patungan, kerjasama operasi, dan
kontrak manajemen dengan PT Telkom dan PT Indosat.
Gambaran
mengenai kondisi persaingan dan struktur industri telekomunikasi di Indonesia
dapat dilihat pada tabel berikut:
Segmen
Industri
|
Kerangka
Hukum
|
Operator
|
|||
Public
Switced Telephone Network
|
Gerbang
Internasional
|
Duopoli
|
Indosat,
Satelindo
|
||
Domestik
|
Lokal
Tetap
|
Kabel
|
Monopoli
|
Telkom
(KSO)
|
|
Tanpa
Kabel
|
Duopoli
|
Telkom,
Ratelindo
|
|||
Bergerak
|
NMT 450
|
Monopoli
Regional
|
Mobisel
|
||
GSM
|
Cakupan
Nasional
|
Satelindo,Excelkomindo,Telkomsel
|
|||
AMPS
|
Monopoli
Regional
|
Komselindo,
Metrosel, Telesera
|
|||
Jarak-Jauh
|
Monopoli
|
Telkom
|
|||
Infrastruktur
|
Teresstrial
|
Monopoli
|
Telkom
|
||
Satelit
|
Kompetisi
Internasional
|
Satelindo,
PSN
|
|||
Jasa
Bernilai Tambah
|
Paging,
Voice mailbox, Komunikasi Data, Wartel, Payphone, dll
|
Kompetisi
|
Operator
Berlisensi
|
||
Jaringan
Khusus
|
VSAT, Trunking
|
Kompetisi
|
Operator
Berlisensi
|
||
Jaringan
Swasta
|
Tidak
Dijual
|
Perusahaan
swasta mana saja
|
|||
Manufaktur
|
Telephone
Switch
|
Kompetisi
Terbatas
|
AT&T,NEC,SIEMENS,SENA
|
||
Transmisi
|
Kompetisi
|
Perusahaan
mana saja
|
|||
Broadband
Switch
|
|||||
CPE
|
Kompetisi
|
Perusahaan
mana saja
|
|||
Kabel
|
Kompetisi
|
Perusahaan
mana saja
|
|||
3.3. Lingkungan Operasi
Lingkungan ini meliputi faktor-faktor pada situasi
kompetitif yang mempengaruhi sukses perusahaan dalam mendapatkan sumber daya
atau dalam keuntungan pemasaran barang dan jasa perusahaan.
- Posisi
Kompetitif
Posisi kompetitif Indosat cukup kuat, sebagai pemimpin pasar, dan hanya menghadapi satu pesaing pada bisnis telekomunikasi internasional yaitu Satelindo. Selain itu juga didukung rangkaian produk dan jasa yang luas, kapasitas dan produktivitas yang memadai, periklanan, dan yang cukup penting citra perusahaan. - Profil
Pelanggan
Pelanggan dari Indosat meliputi rumah tangga dan kalangan bisnis. Dalam hal ini pemakai utama dari telekomunikasi internasional adalah kalangan bisnis, yang banyak digunakan untuk keperluan usaha. Terpuruknya perekonomian Indonesia yang banyak memacetkan sejumlah besar bisnis, mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan volume pemakaian telekomunikasi internasional. - Pemasok
Peralatan-peralatan yang digunakan untuk pengadaan telekomunikasi internasional, merupakan peralatan yang bermuatan teknologi tinggi. Sehingga, sebagian besar peralatan tersebut didatangkan melalui pemasok luar negeri. Walaupun posisi daya tawar Indosat cukup kuat, mengingat culup banyaknya jumlah pemasok, namun penurunan nilai tukar Rupiah sangat mempengaruhi besarnya dana yang diperlukan untuk mendatangkan peralatan tersebut. Namun, pendapatan Indosat yang sebagian besar dalam bentuk Dollar, seperti pendapatan incoming call, cukup membantu. - Kreditor
Dilihat dari struktur kredit-modal, terlihat bahwa Indosat mempunyai struktur yang berimbang, atau antara modal dan kredit jumlahnya sama. Dalam hal ini, mengingat kemampuan Indosat dalam menghasilkan keuntungan maupun asset yang dimilikinya, tidaklah terlampau sulit bagi indosat untuk mendapatkan pinjaman dari kreditor pada jumlah yang memadai. - Sumber
Daya Manusia
Indosat mempunyai SDM yang cukup baik, 40% komposisinya berpendidikan S-1 ke atas. Selain itu didukung dengan program pelatihan berjenjang sesuai posisinya untuk meningkatkan keahlian.
BAB 4. ANALISA STRATEGI
PERUSAHAAN
4.1. Analisa SWOT
- Strength:
Kekuatan Indosat antara lain terdapat pada: hak duopoli yang dimilikinya, pengalaman mengelola bisnis telekomunikasi internasional, kekuatan manajemen dan budaya perusahaan, rangkaian produk dan jasa yang luas, teknologi yang mutakhir pada peralatannya, kualitas produk dan jasa, serta citra perusahaan yang baik. - Weakness:
Kelemahan Indosat antara lain terdapat pada: kurangnya kebiasaan bersaing secara ketat akibat kenikmatan hak duopoli yang dimilikinya, rentannya likuiditas perusahaan akibat besarnya kewajiban yang dimilikinya, dan diversifikasi yang berlebihan seperti pada perusahaan anak dan afiliasi yang kurang menguntungkan. - Oppurtunities:
Peluang bagi Indosat antara lain: besarnya pasar domestik yang belum tergarap, perluasan usaha baru yang melingkupi bisnis inti yang cukup menguntungkan, dan bisnis telekomunikasi global yang cukup menjanjikan. - Threat:
Ancaman bagi Indosat antara lain: masuknya pendatang baru terutama dari luar negeri sehubungan akan berakhirnya hak duopoli, kompetisi global yang memasuki pasar domestik, dan krisis ekonomi yang melanda Indonesia.
4.2. Grand Strategy
Adaptasi pada perubahan
lingkungan yang cepat dalam telekomunikasi telah menjadi critical
factor bagi Indosat. Peningkatan kompetisi, perubahan teknologi, dan
aliansi strategi global , di antara kesemuanya, sedang membentuk pasar
telekomunikasi yang akan datang.
Dalam menanggapi
tantangan-tantangan baru tersebut Indosat telah membangun cetak biru
pertumbuhan, dikenal sebagai Grand Strategy Indosat 2000:
- Jasa
Telekomunikasi Internasional Dasar akan tetap menjadi core
business Indosat
- Peranan
regional dan internasional yang telah meningkat sejak 1994
- Jasa
selular dan sistem satelit bergerak saat ini sedang diperluas melalui
perusahaan selular lokal dan konsorsium internasional
- Jasa
bernilai-tambah yang meliputi telekomunikasi pada saat ini, integrasi
sistem dan informasi multimedia dan hiburan yang melengkapi dan menambah
nilai dari jasa core Indosat
4.3. Growth Strategy
Indosat berusaha mempertahankan
keberadaannya sebagai pemimpin pasar untuk jasa telekomunikasi internasional di
Indonesia, memposisikan dirinya sebagai perusahaan telekomunikasi
berkelas-dunia, dan menjadi pemain global dalam industri telekomunikasi dunia.
Hal ini dicapai melalui Strategi Bisnis "1-plus-3" yang mencoba:
"1" Membangun
jasa telekomunikasi internasional melingkupi central core business
Lalu-lintas telekomunikasi internasional Indosat di transmisikan melalui satelit internasional, sistem kabel bawah laut, dan sambungan gelombang mikro, yang kesemuanya menggunakan teknologi digital mutakhir termasuk protokol multimedia canggih. Indosat mengoperasikan empat gerbang internasional di Jakarta, Surabaya, Medan, dan Batam dimana lalu-lintas melewati dari Indonesia ke seluruh dunia, dan sebaliknya. Setelah membangun akses ke satelit yang cukup melalui sembilan stasiun bumi di empat lokasi gerbang melintang Indonesia, Indosat pada saat ini memperluas aksesnya ke kabel serat optik digital bawah laut dengan bergabung ke konsorsium kabel regional dan dunia. Ini semua adalah bagian dari program perluasan yang didesain untuk meningkatkan kapasitas, memperbaiki kualitas, dan menyediakan jasa baru untuk memenuhi perubahan permintaan konsumen.
Lalu-lintas telekomunikasi internasional Indosat di transmisikan melalui satelit internasional, sistem kabel bawah laut, dan sambungan gelombang mikro, yang kesemuanya menggunakan teknologi digital mutakhir termasuk protokol multimedia canggih. Indosat mengoperasikan empat gerbang internasional di Jakarta, Surabaya, Medan, dan Batam dimana lalu-lintas melewati dari Indonesia ke seluruh dunia, dan sebaliknya. Setelah membangun akses ke satelit yang cukup melalui sembilan stasiun bumi di empat lokasi gerbang melintang Indonesia, Indosat pada saat ini memperluas aksesnya ke kabel serat optik digital bawah laut dengan bergabung ke konsorsium kabel regional dan dunia. Ini semua adalah bagian dari program perluasan yang didesain untuk meningkatkan kapasitas, memperbaiki kualitas, dan menyediakan jasa baru untuk memenuhi perubahan permintaan konsumen.
- Partisipasi
dalam pembangunan infrastruktur telekomunikasi domestik
Indosat memandang investasinya pada infrastruktur telekomunikasi domestik selain sebagai alat untuk memperluas pasar jasa telekomunikasi internasional, juga sebagai sumber pendapatan baru untuk perusahaan. Dua ventura utama Indosat pada lapangan ini adalah PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia sebagai pemegang lisensi operator telekomunikasi di daerah Jawa Tengah, PT Pramindo Ikat Nisantara di Sumatra, dan PT Telekomunikasi Selular Indonesia (Telkomsel), perusahaan join-ventura jasa GSM selular bergerak. - Meningkatkan
peranannya dalam telekomunikasi regional dan internasional
Indosat memulai proyek internasional, melibatkan join-ventura dengan mendasarkan sebagaimana membangun carriers telekomunikasi internasional. Tujuan utamanya adalah meningkatkan lalu-lintas internasional melalui gerbang perusahaan, memperoleh pendapatan langsung dari proyek dan mendapatkan tambahan keahlian dari pembukaan internasional. Sampai sekarang, Indosat terikat dengan berbagai proyek telekomunikasi termasuk join-ventura dengan entitas telekomunikasi yang bersangkutan dari Kamboja dan Kazakstan dan investasi ekuitas pada jasa selular berbasis PHS di Jepang sebagaimana di USA Global Link dan Alphanet Telecom Inc. Keduanya adalah pemain utama carrier telekomunkasi. Sebagai tambahan, Indosat telah bergabung dengan aliansi internasional seperti Concert and World Partners dan telah ditunjuk sebagai gerbang bagi Sistem Bergerak Global Inmarsat, SAN ICO melayani kawasan Asia Tenggara. - Mengambil
diversifikasi terbatas pada bisnis komplementer
Indosat juga mencoba untuk mendiversifikasi pada daerah di mana keahlian perusahaan dalam telekomunikasi dapat dipergunakan untuk mengoptimumkan efek seperti pada jasa bernilai tambah yang melengkapi bisnis core perusahaan. Jasa –jasa ini tersedia melalui perusahaan anak dan pada saat ini meliputi beberapa jasa pertukaran data elektronik, bank elektronik, multimedia , dan internet
Dengan strategi perusahaan
"1+3", Indosat akan menjadi perusahaan yang merupakan "penyedia
jasa penuh" dan "pemimpin bisnis multimedia".
4.4. Analisa Strategi Bisnis Indosat
Menghadapi Krisis Ekonomi
Sehubungan dengan krisis ekonomi
yang melanda Indonesia, Indosat mengalami masa yang sulit sejak awal 1998
ketika Rupiah terdepresiasi secara drastis. Banyak bisnis di Indonesia yang
mengalami kemacetan karena kondisi makro ekonomi, instabilitas politik, dan
gejolak sosial. Dilengkapi dengan krisis moneter, situasi ini mempengaruhi
pertumbuhan permintaan jasa telekomunikasi internasional di Indonesia.
Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, pertumbuhan volume lalu-lintas lebih
lambat, yang memaksa Indosat untuk : lebih berhati-hati dalam kegiatan operasi
dan manajemen arus kas terutama mata uang asing, sehubungan komitmen investasi
yang jatuh waktu.
Namun demikian tampaknya krisis
ekonomi tersebut tidak menurunkan keuntungan Indosat, melainkan menurunkan
pertumbuhannya saja. Selama Januari hingga September 1998, incoming dan outgoing
calls menigkat masing-masing 4,1% dan 10,3% dari periode sebelumnya.
Pertumbuhan yang lamban dari incoming traffic disebabkan
turunnya kegiatan bisnis internasional sebagai bagian dari situasi nilai tukar
rupiah dan instabilitas politik, menyusul kerusuhan Mei di Jakarta. Indosat
masih memproyeksikan pertumbuhan positif lalu-lintas telepon. Pendapatan
operasi meningkat 45,6% sedangkan beban operasi meningkat 33%.
Sebagai strategi bisnis dalam
menghadapi krisis ekonomi ini, Indosat menerapkan kebijakan, antara lain:
- Selalu
mencari cara yang paling ekonomis menurunkan beban pembelanjaan pada mata
uang asing
Indosat mengurangi biaya sirkuit dengan menggunakan lebih banyak sirkuit kabel bawah laut ketimbang satelit, yang pada saat ini mencapai 74% dari total bandwith. - Melakukan
kebijakan konservatif menyangkut situasi krisis ekonomi Indonesia
Pengalokasian hutang tak tertagih yang cukup besar, meningkat 88,4% dari tahun sebelumnya. - Menerapkan
kebijakan likuiditas yang berhati-hati
Biaya telekomunikasi dan beban perawatan meningkat sebagai dampak melemahnya Rupiah. Namun dalam hal ini pertumbuhan beban operasi diupayakan lebih rendah dari pendapatan operasi, serta meningkatkan profit margin. - Melindungi
fundamental dasar Indosat dari pengaruh kinerja negatif anak perusahaan
Untuk menghindari dampak dari kinerja negatif anak perusahaan, maka dilakukan program restrukturisasi diversifikasi bisnis, yang akan memperbaiki posisi keuangan perusahaan dalam jangka pendek dan sesuai dengan strategi jangka panjang.
Dilihat dari hasil-hasil yang
dicapai pada kuartal ketiga seperti yang disebutkan di atas, sejauh ini Indosat
cukup tepat dalam memilih strategi bisnis maupun penerapannya guna menghadapi
krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada saat ini, yang tentunya harus sesuai
dengan strategi jangka panjang Indosat seperti yang tertuang dalam Grand
Strategy dan Growth Strategy untuk mewujudkan Indosat
sebagai perusahaan yang merupakan "penyedia jasa penuh" dan
"pemimpin bisnis multimedia".
BAB 5. PENUTUP
5.1. Tanggapan
Setelah menganalisis data-data dan informasi sebelumnya,
maka bisa ditarik beberapa tanggapan mengenai manajemen strategi Indosat,
yaitu:
- Strategi
yang tepat diperlukan dalam menghadapi persaingan yang sangat ketat dalam
industri telekomunikasi, yang tingkat persaingannya tidak lagi domestik,
tetapi bersifat internasional.
- Indosat
mempunyai kinerja yang cukup baik dalam menghasilkan keuntungan, namun
mempunyai posisi yang rentan menyangkut likuiditasnya.
- Krisis
ekonomi yang melanda Indonesia mempunyai dampak yang cukup dirasakan oleh
Indosat, walaupun tidak mempengaruhi kenaikan pendapatan namun mengalami
penurunan.
- Indosat
cukup tepat dalam memilih strategi bisnis menghadapi krisis ekonomi yang
melanda Indonesia pada saat ini, yang sesuai dengan strategi jangka
panjang Indosat seperti yang tertuang dalamGrand Strategy dan Growth
Strategy untuk mewujudkan Indosat sebagai perusahaan yang merupakan
"penyedia jasa penuh" dan "pemimpin bisnis
multimedia".
5.2. Saran
Berdasarkan analisa competitive strategy dan
SWOT, terdapat beberapa hal yang dapat diterapkan Indosat, antara lain:
- Dapat
memanfaatkan kekuatan yang dimilikinya untuk mengambil peluang-peluang
yang bersifat strategis , serta memperbaiki kelemahannya terutama
menyangkut budaya bersaing dalam menghadapi ancaman masuknya pendatang
baru dari luar negeri.
- Lebih
memperkuat posisi keuangannya, mengingat rentannya likuiditas perusahaan
dalam memenuhi kewajibannya.
- Membatasi
diversifikasi bisnis secara selektif, sehingga tidak mempengaruhi
fundamental dasar perusahaan.
- Melakukan
langkah-langkah yang tepat dan berhati-hati dalam menghadapi krisis
ekonomi, sehingga dapat menjaga apa yang telah dicapai perusahaan selama
ini.
REFERENSI









